Skip to main content

Istri Fanatis, Anak Menangis


Suara-Manusia--Informasi ledakan bom mulai lagi tersiar diberbagai lini media, kali ini otak masyarakat Indonesia (mungkin) sudah terdiksi kata “Bom” erat dengan kegaiatan teroris. Mulai dari kata teroris pun langsung pikiran-pikiran lain saling berkaitan, mulai dari islam puritan, fundametalis agama, serta serangakaian jaringan ISIS yang mulai masuk di Indonesia.

Tepat di hari Rabu (13/3/2019), terdapat seorang istri terduga teroris berani tanpa pikir panjang meledakan diri. Kali ini kota yang ditempati terduga teroris ialah Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara, jauh dan sangat militan dari pusat Ibu Kota Jakarta. Sepintas di lokasi yang teramat “Asing” itu, ialah  tempat yang cocok bagi kaum militan untuk melancarkan dan merencanakan aksinya.

Namun yang perlu menjadi titik perhatian ialah seorang istri yang sangat setia dengan isi otaknya, tanpa menghiraukan segala mediasi. Si istri dari terduga teroris tersebut nampak bahagia dengan keputusannya.

Berdasarkan Informasi lapangan, pelaku bom bunuh diri terjadi sekiatar pukul 01.30 WIB. Dari serangkaian ulah ini, tidak sedikit yang mulai mempertanyakan ajaran apa yang membuat si manusia begitu rela dan pasrah untuk mati.

Sufi? Atau sekedar menjalankan syariat. Semua ini dirasa begitu rumit untuk mengurai perkara yang tak kunjung ketemu pangkalnya. Siapa gerangan yang sudah paham betul akan surga dan neraka, kafir dan muslim, serta penilaian baik buruk seseorang. Secara hina sepertinya manusia tak ada kewenangan untuk menilai dan melabeli keimanan satu sama lain.

“Tak ada murid yang satu sama lain, saling mengisi rapot masing-masing,” kalimat ini mungkin prinsip sederhana yang pas untuk mendidik manusia pengusung fanatisme radikal.

Cukup sudah saya kira fenomena seperti ini, dan tak akan ada solusi dari perang pemikiran yang tak ada habisnya. Justru upaya membangun kesadaran ialah yang terpenting, apa susahnya jika para kaum radikal militan itu untuk tau, jika di negara ini adalah negara hukum yang tak cocok dengan isu radikalimse. Lalu kemudian berpindah di negara atau tempat yang sesuai dengan jalan pikiran dan dogmanya.

Sepertinya pemerintah pun nantinya tak bermasalah dengan itu. Korban tak lagi berjatuhan, serta kisah anak yang malang ditinggal oleh orang tuanya. Kasus Sibolga yang sedang hangat ini, ibarat duri yang tersimpan, diam lalu tanpa sadar menyakiti.

Terutama bagi para istri terduga teroris, insting keibuan kalian adalah yang terpenting dan anak merupakan rahmat kehidupan Tuhan. Tak perlu kalian libatkan, cukuplah kalian. Ya kalian, yang fanatis terhadap dogma agama sinis yang kalian tahu. Tugas kalian tehadap anak ialah membesarkan dan memberi makan, kedepan pakem pemikiran apa yang akan anak kalian pilih itu bukan urusan kalian. *

Comments